Senin, 06 Mei 2013

BUDHAISME dan Konsep KESELAMATAN dalam mata kuliah teologi agama-agama


tugas makalah mata kuliah"Theology Agama-Agama"
AJARAN TENTANG BUDDHAISME

D
I
K
E
R
J
A
K
A
N
Oleh:
                        Kelompok  4

            NAMA            :  1. Yuni Ginting
                                       2.  Gustina Sagala
                                       3.  Lasmyanta Panjaitan
                                       4.  Minarty Lumbanraja
                                       5.  Fransiska Sitepu
            GROUP          :   E
            M.K                 :  Teologi Agama-Agama
            D.M.K             :  Hanna D. Aritonang, M.Th



BAB I
PENDAHULUAN
1.      Apa itu Buddhaisme?
            Secara Etimologis perkataan “Buddha”, diambil dari dasar kata kerja”Budd”, yang artinya bangun. Orang Buddha adalah orang yang bangun yang artinya orang yang telah bangun dari malam kesesatan dan sekarang ada ditengah-tengah cahaya pemandangan yang benar. Dan orang Buddha diberikan juga nama-nama lain misalnya: Bhagavat dan Tathagata. Orang Buddha adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan kekuatannya sendiri. Dan seorang Buddha sendiri selama hidupnya tidak dapat menerima dari seorang Buddha yang lain dorongan yang memberi pemandangan yang benar kepadanya.
            Jadi seorang Buddha bukanlah seorang Juruselamat yang melepaskan orang-orang lain dengan pengampunannya, melainkan seorang penunjuk jalan,  yang hanya menunjukkan jalan kearah kebahagiaan. Buddha mengajarkan “ kamu sendirilah yang harus berusaha sekuat tenaga, mereka yang sempurna hanya memberitakan” ( Dhammapada 276). Jadi seorang Buddha bukan pula suatu Allah atau suatu penjelmaan
            Tetapi penting pula diperhatikan, bahwa didalam agama Buddha tidak pernah diajarkan, bahwa seorang Buddha itu menjadi pencipta atau yang memerintah dunia yang penuh dengan penderitaan, melainkan Ia hanya seorang guru dan memberi pengajaran yang benar kepada manusia.[1]

2.      Sejarah Agama Buddha
            Budha bukanlah nama orang, melainkan suatu gelar. Menurut para ahli Barat, Budha Gautama, pendiri agama Budha dilahirkan pada tahun 563 s.M dan wafat pada tahun  483 s.M. Ia adalah anak Raja Sudhodana Gautama, yang memerintah atas suku Sakya. Ibunya bernama Maya. Ia  dibesarkan di ibukota kerajaan Kapilawastu, India. Dan Ia sendiri diberi nama Sidharta Gautama.[2]
            Pada masa hidupnya sebagai putra raja , Ayahnya sangat berharap ia akan menjadi pewaris tahta kerajaan yang hebat, sehingga ia berusaha membesarkan Gautama dengan sebaik mungkin. Siddharta hidup di tengah kemewahan. Ia mempunyai banyak pelayan. Selain itu, ia juga diberi pelajaran mengenai berbagai ilmu, dan Siddharta berhasil menguasainya dengan baik. Ia adalah seorang yang pandai. Karena ada ramalan bahwa Siddharta akan menjadi Buddha, ayahnya berusaha menghindarkannya dari semua pemandangan tentang penderitaan. Ayahnya berusaha membuatnya hanya tahu kesenangan duniawi semata.
            Suatu hari Siddharta meminta izin untuk berjalan-jalan di luar istana. Saat itulah Siddharta melihat empat pemandangan yang mengubahkan hidupnya. Pertama, dia melihat di ladang. Ada banyak orang tua yang miskin, harus bekerja susah payah membajak ladang. Siddharta menyadari bahwa mereka sungguh menderita, sungguh kelelahan. Kedua, ia melihat orang yang sedang sakit. Kembali ia menyadari bahwa orang sakit ini sangatlah menderita. Dan ketiga, ia melihat orang yang sudah mati. Salah seorang pegawainya mengatakan padanya bahwa semua orang pada akhirnya juga akan mati. Di dalam ketiga pemandangan tersebut, pegawainya mengatakan padanya bahwa itu semua adalah hal yang biasa dan selalu terjadi di dunia ini. Dan keempat, Siddharta melihat seorang pertapa. Pegawainya mengatakan bahwa pertapa tersebut telah meninggalkan rumahnya untuk mencari jawaban akan realita dunia ini.
            Selama 10 tahun, Gautama mengalami pergolakan di dalam batinnya. Dan sadar segala kesukaan dunia tidak ada yang dapat memuaskan, hatinya tertarik pada kehidupan Pertapaan. Pada akhirnya, di usia 29 tahun, ia meninggalkan istana. Ia telah bertekad mencari jawaban untuk melepaskan umat manusia dari “tua”, “sakit”, dan “mati”. Sidharta dilimpahi kesenangan dan kemewahan yang tiada taranya. Akan tetapi Sidharta tidak merasa senang akan hal itu.
            Suatu malam dengan diam-diam Ia meninggalkan istri dan anak laki-lakinya yang masih muda ketika mereka tertidur, untuk menjadi pertapa yang mencari pencerahan mengenai penyebab penderitaan. Enam tahun kemudian Gautama mengalami pencerahan ketika bermeditasi dibawah sebatang Pohon Bodhi (pohon pengetahuan). Selama bermeditasi Ia mengalami pencerahan dan memperoleh pengetahuan yang sempurna dan inilah sebabnya Ia disebut Budha.
            Budha menyampaikan berbagai pengetahuan pencerahannya dalam khotbah pertamanya di Taman Rusa Benares, dengan pemberitaan kepada lima orang pertapa. Mereka menjadi murid-muridnya yang pertama. Sehingga terbentuklah sangha Budda pertama atau kehidupan biara.  Pemberitaannya di Taman Rusa mengajarkan tentang betapa besarnya kesengsaraan yang diakibatkan oleh nafsu manusia. Ada empat inti pencerahan Budhha yang dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia dalam ajaran Buddha:
·         Penderitaan adalah pengalaman universal manusia (Dukha)
·         Keinginan bereksistensi adalah penyebab penderitaan (Samudaya)
·         Penderitaan berhenti ketika keinginan itu berhenti (Nirodha)
·         Jalan yang membawa penghentian penderitaan (Marga)
            Jalan utama berunsur delapan  yang membawa kepada penghentian penderitaan: kepercayaan yang benar, aspirasi yang benar, ucapan yang benar, perbuatan yang benar, cara mencari nafkah yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar, meditasi yang benar
            Setelah kematian Buddha pada tahun 483 s.M, ajaran-ajarannya dikumpulkan. Akhirnya ajaran-ajaran itu menjadi kitab suci bagi para penganut agama Budha , yang ditulis dalam bahasa Pali, kitab-kitab suci ini dikenal sebagai Tripitaka (Tiga Keranjang).[3]

BAB II
PEMBAHASAN
1.      Ajaran Tentang Tuhan
Tuhan dalam Agama Buddha
            Tak dapat  dikatakan bahwa didalam ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab-kitab pitaka terdapat ajaran tentang Tuhan atau Tokoh yang dipertuhan. Tujuan hidup bukan utnuk kembali kepada asalnya yaitu Tuhan, melainkan untuk masuk kedalam Nirwana. Penting bagi kita semua untuk mengetahui bahwa konsep nirwana dalam agama Buddha berbeda dengan konsep surga dalam Kristen atau Islam. Nirwana bukanlah suatu lokasi, melainkan suatu kondisi, yaitu keterlepasan dari penderitaan. Atau suatu keadaan dimana orang tidak lagi terbakar oleh nafsunya. Itulah situasi damai.
            Agama Buddha adalah sebuah agama yang tanpa Tuhan. Ajaran tentang Tuhan tidak ada di seluruh ajaran Gautama tersebut. Gautama tidak pernah mengajarkan untuk menyembah Tuhan; tidak juga mengajarkan tentang sifat-sifat Tuhan. Dan Buddha itu sendiri pun juga bukan Tuhan. Gautama sama sekali tidak pernah mengatakan dirinya adalah Tuhan atau dewa, dan tidak pernah pula menyuruh dirinya dipatungkan atau disembah. Mungkin Gautama berpikir,”Tuhan itu ada atau tidak, itu tidaklah penting; yang penting adalah berbuatlah baik dan capailah Nirwana”. [4]

2.      Ajaran Buddha Tentang Manusia

Dalam buku Agama-agama di dunia dijelaskan bahwa Manusia, menurut ajaran Buddha, adalah kumpulan dari kelompok energi fisik dan mental yang selalu dalam keadaan bergerak, yang disebut pancakhandha atau lima unsur yaitu rupakhandha, vedanakhandha, sannakhandha, shankharakhandha dan vinnanakhandha.
Rupakhandha, atau unsur akan wujud atau bentuk, adalah semua yang terdapat dalam makhluk yang masih berbentuk (unsur dasar) yang dapat diserap dan dibayangkan oleh indra (yang terlihat, terdengar, terasa, tercium ataupun tersentuh). Vedanakhandha, atau unsur akan perasaan, adalah semua perasaan yang timbul karena adanya hubungan lima indra manusia dengan dunia luar, baik perasaan senang, susah ataupun netral. Sannakhandha, adalah unsur akan penyerapan yang menyangkut intensitas indra dalam menanggapi rangsangan dari luar yang menyangkut enam macam penyerapan indrawi seperti bentuk suara, bau-bauan, cita rasa, sentuhan jasmaniah dan pikiran. Shankharakhandha, adalah unsur bentuk-bentuk pikiran. Menurut ajaran Buddha, bentuk-bentuk pikiran ini terdiri dari 50 macam kegiatan mental seperti perhatian, keinginan, keyakinan, kemauan keras, keserakahan, dan sebagainya. Vinnanakhandha, unsur akan kesadaran, adalah unsur terhadap reaksi atau jawaban yang berdasarkan pada salah satu dari keenam indra dengan objek dari indra yang bersangkutan.
Manusia dianggap merupakan kumpulan dari lima kandha tanpa adanya roh atau atma di dalamnya. Agama Buddha menyangkal adanya roh atau atma yang kekal dalam diri manusia. Ajaran ini disebut dengan ajaran anatman atau anatta.
Manusia selalu berada dalam dukkha karena hidup menurut ajaran Buddha selalu dalam keadaan dukkha, sebagaiman diajarkan dalam Catur Arya Satyani tentang hakikat dari dukkha. Untuk menghilangkan dukkha manusia harus mengetahui dan memahami sumber dukkha yang disebut dukkhasamudya, yang ada dalam diri manusia itu sendiri, yaitu berupa kehausan (tanha) yang mengakibatkan kelangsungan dan kelahiran kembali serta ketertarikan pada hawa nafsu. Tanha inilah yang bisa mengakibatkan manusia ke dalam lobha (ketamakan), moha (kegelapan) dan dosa (kebencian).
Terhentinya dukkha manusia bisa membawa manusia sampai pada nirwana. Istilah “nirwana” adalah untuk menggambarkan akhir proses yang terjadi dalam diri manusia, yang berbeda dengan konsep sorga maupun neraka seperti dalam agama-agama lainnya. Ketika kebodohan teratasi, maka tercapailah kebebasan yang sebenar-benarnya, suatu nirwana yang mutlak. Nirwana inilah tujuan akhir dari semua pemeluk agama Buddha, baik sewaktu masih hidup maupun sesudah mati.[5]
3.      Ajaran tentang Alam Semesta
            Kosmologi Buddhisme  berkembang dalam hubungan yang erat dengan pendapat-pendapat tentang susunan dan perkembangan alam semesta, yang telah lama berlaku di India sebelum Zaman Buddha. Bagi Buddhisme sistim atau tata dunia berlangsung dengan sangat panjang. Orang berpendapat, bahwa suatu tata dunia itu terdiri atas sejumlah matahari, bulan dan lain-lain dan dalam pada itu orang percaya pula, bahwa pada masa yang sama ada banyak tata dunia. Begitulah yang dilukiskan orang tentang suatu jagat raya atau alam semesta yang terbentang tak terbatas jauhnya di dalam ruang dan waktu.
BAB III
KONSEP KESELAMATAN AGAMA BUDDHA
Dalam Buddha-Dhamma, tidak diajarkan adanya sosok juru-selamat yang hanya dengan beriman kepadanya dosa-dosa kita, umat manusia, akan sepenuhnya terhapuskan, dan kita terjamin dalam kehidupan yang kekal-abadi karenanya.
Sang Buddha, Guru Agung kita semua, hanyalah penunjuk jalan, tetapi kita masing-masinglah yang harus menjalani “Jalan-Pembebasan” tersebut, seperti Sabda Beliau yang tertera dalam Dhamapada 160 :
“ Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya ?
Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang amat sukar dicari. “
Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi suci ? Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi tidak-suci ? Dengan demikian, siapakah yang menjadikan hidup kita selamat ? Siapakah yang menjerumuskan kehidupan kita dalam jurang kekelaman ? Tidak lain tidak bukan adalah : diri kita sendiri. Keselamatan dan kesucian tidak didapatkan dari suatu kekuatan eksternal, diluar diri kita sendiri. Dhamapada 165 menyatakan :
“ Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.
Tak seorang pun yang dapat mensucikan orang lain. “
Sang Bhagava pernah bersabda, “Jadikanlah dirimu pulau perlindungan bagi dirimu sendiri.” Demikianlah yang diajarkan Sang Buddha. Kita sendiri yang harus bertanggungjawab terhadap hidup kita, terhadap setiap bentuk ucapan, pikiran dan perbuatan kita. Kita tidak pernah bisa menyalahkan siapapun jika hidup kita terjerembab dalam kenistaan, dan kita tidak sepatutnya bermanja-manja meminta kerelaan siapapun untuk “menggendong” kita menuju keselamatan dan kebebasan dari semua bentuk penderitaan.
Dalam Buddha-Dhamma, “Keselamatan” dan “Kebebasan” bukanlah sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah kematian. Pandangan tersebut adalah pandangan spekulatif. Keselamatan dan kebebasan dapat dicapai dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan kebebasan inipun diketahui oleh orang yang bersangkutan pula, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta, berkenaan dengan Bhikkhu Salba :
“ Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri. “
            Dua Jenis Keselamatan
Dalam Buddha-Dhamma dikenal dua jenis keselamatan, yaitu :
            1). Keselamatan Relatif
Dalam kebanyakan ajaran-ajaran selain Buddha-Dhamma, dinyatakan bahwa bentuk “Keselamatan” adalah suatu jaminan kelak setelah kita mati kita akan terlahir disisi “Maha-Dewa”, hidup penuh kesenangan didalam sorga.
Jika jenis keselamatan ini yang dimaksudkan, maka bagi agama Buddha keselamatan jenis ini adalah keselamatan “relatif”, karena alam surga sesungguhnya TIDAK-KEKAL, Alam surga juga bersifat relatif, karena masih terbelenggu oleh dimensi ruang dan waktu.
Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk berdoa dan menyembah Dewa / Dewi penghuni surga, karena mereka sendiri masih diliputi kekotoran batin, yaitu nafsu-nafsu indra, dan juga masih dicengkeram oleh kelahiran dan kematian.
Alam surga bukanlah monopoli agama tertentu. Tetapi, alam surga memang hanya akan dihuni oleh orang-orang tertentu, menjadi monopoli orang-orang semacam itu. Orang-orang seperti apakah ? Orang-orang yang baik hatinya, yang rendah hati, yang penuh cinta kasih, yang mempunyai rasa malu untuk berbuat jahat dan mempunyai rasa takut akan akibat perbuatan jahat, yang selama hidup sebelumnya sangat gemar berderma, suka menolong semua makhluk yang mengalami penderitaan, dan lain-lain sifat dan watak yang positif. Kebajikan dan kebenaranlah yang akan menjamin seseorang masuk  surga , bukan agama yang menjamin seseorang masuk surga


            2). Keselamatan Absolut
Buddha-Dhamma mengajarkan, bahwa surga bukanlah tujuan tertinggi bagi semua makhluk. Terbebas dari samsara adalah “Keselamatan-Absolut”, “Kebebasan-Mutlak”. Kebebasan ini diraih dengan merealisasi “Nibbana” ( Sanskerta : Nirvana ), keadaan tanpa-nafsu-keinginan, pemadaman semua kekotoran). Musnahnya kekotoran batin, hancurnya nafsu yang abadi serta gemilang, inilah Keselamatan-Mutlak. Saat itulah semua makhluk akan terbebas dan berhasil keluar dari putaran arus kelahiran dan kematian.
            Didalam Buddha Dhamma disebutkan bahwa Surga bukanlah tujuan utama dan tertinggi bagi umat Buddhis maupun bagi semua makhluk. Terbebas dari daur-ulang “Tumimbal lahir“ inilah yang merupakan “Keselamatan-Absolut” dan “Kebebasan-Mutlak”, karena saat itulah semua makhluk akan terbebas sepenuhnya dari lingkaran kelahiran dan kematian (samsara). Keselamatan dan Kebebasan mutlak ini hanya dapat diraih dengan merealisasi “Nibbana” yaitu ; Keadaan tanpa nafsu keinginan, yang merupakan  pemadaman total dari semua kekotoran batin .
            Demikianlah, sehingga Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha Dhamma bukanlah hal sederhana sebagai pencapaian kehidupan di alam surga semata. Keselamatan dalam Buddha Dhamma merupakan terbebasnya suatu makhluk dari putaran arus kelahiran dan kematian ( samsara ), yang penuh dukkha, kepiluan, dan ratap-tangis. Keselamatan sedemikian ini hanya akan dicapai saat suatu makhluk, dalam hal ini seseorang manusia, merealisasi Nibbana, mencapai Pencerahan, mencapai ke-Buddha-an.




BAB IV
REFLEKSI TEOLOGIS

            Cara pandang Buddhaisme menekankan bahwa seseorang harus membiarkan hidup mengalir secara alamiah seperti aliran sebuah arus sampaiakhirnyamencapailaut.Ada banyak nilai-nilai moral yang baik yang diajarkan oleh Gautama, Gautama sendiri patut dikenang sebagai tokoh yang berhati mulia. Bagaimanakah kita orang Kristen harus bersikap pada orang Buddha? Sepanjang sejarah, orang Buddha tergolong jarang terlibat dalam pertikaian antar agama.
            Orang Kristen harus belajar dari orang-orang Buddha setidaknya dalam 2 hal: Pertama, mereka bisa menjalin kerukunan antar aliran mereka. Meskipun mereka terpecah menjadi banyak aliran, mereka bisa saling menghargai satu sama lain. Kedua, mereka sangat menghargai agama-agama lain. Mereka bisa menghargai perbedaan pendapat. Orang Kristen perlu belajar dari mereka dalam hal-hal positif yang mereka miliki. Dan di atas semuanya itu, kerukunan antar agama harus tetap selalu dijunjung.
            Budhisme menyerap pluralisme internal yang luar biasa. Ia juga dapat menjalankan tugas dengan nyaman dengan agama-agama lain. Penekanan Buddhis pada tanggung jawab pribadi menegaskan pada kemerdekaan untuk memilih.

Soli Deo Gloria!
Terpujilah Nama Tuhan


[1] Dr. A. G. Honig, Agama-Agama di Dunia, BPK Gunung Mulia 1994, hal 165-166
[2] Dr. Harun. H, Agama Hindu & Budda, BPK Gunung Mulia 2000, hal 64
[3] David W. Shenk, Ilah-Ilah Global, BPK Gunung Mulia 2003, hal 129-130.
[4] Dr. Harun. H, Agama Hindu & Budda, BPK Gunung Mulia 2000, hal 101-102.
[5] Blogger kejora