tugas makalah mata kuliah"Theology Agama-Agama"
AJARAN TENTANG BUDDHAISME
D
I
K
E
R
J
A
K
A
N
Oleh:
Kelompok 4
NAMA : 1. Yuni Ginting
2.
Gustina Sagala
3.
Lasmyanta Panjaitan
4.
Minarty Lumbanraja
5.
Fransiska Sitepu
GROUP : E
M.K : Teologi Agama-Agama
D.M.K : Hanna D.
Aritonang, M.Th
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Apa itu Buddhaisme?
Secara Etimologis perkataan “Buddha”,
diambil dari dasar kata kerja”Budd”, yang artinya bangun. Orang Buddha adalah
orang yang bangun yang artinya orang yang telah bangun dari malam kesesatan dan
sekarang ada ditengah-tengah cahaya pemandangan yang benar. Dan orang Buddha
diberikan juga nama-nama lain misalnya: Bhagavat dan Tathagata. Orang Buddha
adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan kekuatannya sendiri. Dan seorang Buddha
sendiri selama hidupnya tidak dapat menerima dari seorang Buddha yang lain
dorongan yang memberi pemandangan yang benar kepadanya.
Jadi seorang Buddha bukanlah seorang
Juruselamat yang melepaskan orang-orang lain dengan pengampunannya, melainkan
seorang penunjuk jalan, yang hanya
menunjukkan jalan kearah kebahagiaan. Buddha mengajarkan “ kamu sendirilah yang
harus berusaha sekuat tenaga, mereka yang sempurna hanya memberitakan” (
Dhammapada 276). Jadi seorang Buddha bukan pula suatu Allah atau suatu
penjelmaan
Tetapi penting pula diperhatikan,
bahwa didalam agama Buddha tidak pernah diajarkan, bahwa seorang Buddha itu
menjadi pencipta atau yang memerintah dunia yang penuh dengan penderitaan,
melainkan Ia hanya seorang guru dan memberi pengajaran yang benar kepada
manusia.[1]
2.
Sejarah Agama Buddha
Budha bukanlah nama orang, melainkan
suatu gelar. Menurut para ahli Barat, Budha Gautama, pendiri agama Budha
dilahirkan pada tahun 563 s.M dan wafat pada tahun 483 s.M. Ia adalah anak Raja Sudhodana Gautama,
yang memerintah atas suku Sakya. Ibunya bernama Maya. Ia dibesarkan di ibukota kerajaan Kapilawastu,
India. Dan Ia sendiri diberi nama Sidharta Gautama.[2]
Pada masa hidupnya sebagai putra
raja , Ayahnya sangat berharap ia akan menjadi pewaris tahta kerajaan yang
hebat, sehingga ia berusaha membesarkan Gautama dengan sebaik mungkin.
Siddharta hidup di tengah kemewahan. Ia mempunyai banyak pelayan. Selain itu,
ia juga diberi pelajaran mengenai berbagai ilmu, dan Siddharta berhasil
menguasainya dengan baik. Ia adalah seorang yang pandai. Karena ada ramalan
bahwa Siddharta akan menjadi Buddha, ayahnya berusaha menghindarkannya dari
semua pemandangan tentang penderitaan. Ayahnya berusaha membuatnya hanya tahu
kesenangan duniawi semata.
Suatu hari Siddharta meminta izin
untuk berjalan-jalan di luar istana. Saat itulah Siddharta melihat empat
pemandangan yang mengubahkan hidupnya. Pertama, dia melihat di ladang.
Ada banyak orang tua yang miskin, harus bekerja susah payah membajak ladang.
Siddharta menyadari bahwa mereka sungguh menderita, sungguh kelelahan. Kedua,
ia melihat orang yang sedang sakit. Kembali ia menyadari bahwa orang sakit ini
sangatlah menderita. Dan ketiga, ia melihat orang yang sudah mati. Salah
seorang pegawainya mengatakan padanya bahwa semua orang pada akhirnya juga akan
mati. Di dalam ketiga pemandangan tersebut, pegawainya mengatakan padanya bahwa
itu semua adalah hal yang biasa dan selalu terjadi di dunia ini. Dan keempat,
Siddharta melihat seorang pertapa. Pegawainya mengatakan bahwa pertapa tersebut
telah meninggalkan rumahnya untuk mencari jawaban akan realita dunia ini.
Selama 10 tahun, Gautama mengalami
pergolakan di dalam batinnya. Dan sadar segala kesukaan dunia tidak ada yang
dapat memuaskan, hatinya tertarik pada kehidupan Pertapaan. Pada akhirnya, di
usia 29 tahun, ia meninggalkan istana. Ia telah bertekad mencari jawaban untuk
melepaskan umat manusia dari “tua”, “sakit”, dan “mati”. Sidharta dilimpahi
kesenangan dan kemewahan yang tiada taranya. Akan tetapi Sidharta tidak merasa
senang akan hal itu.
Suatu malam dengan diam-diam Ia
meninggalkan istri dan anak laki-lakinya yang masih muda ketika mereka tertidur,
untuk menjadi pertapa yang mencari pencerahan mengenai penyebab penderitaan.
Enam tahun kemudian Gautama mengalami pencerahan ketika bermeditasi dibawah
sebatang Pohon Bodhi (pohon pengetahuan). Selama bermeditasi Ia mengalami
pencerahan dan memperoleh pengetahuan yang sempurna dan inilah sebabnya Ia
disebut Budha.
Budha menyampaikan berbagai
pengetahuan pencerahannya dalam khotbah pertamanya di Taman Rusa Benares,
dengan pemberitaan kepada lima orang pertapa. Mereka menjadi murid-muridnya
yang pertama. Sehingga terbentuklah sangha Budda pertama atau kehidupan
biara. Pemberitaannya di Taman Rusa
mengajarkan tentang betapa besarnya kesengsaraan yang diakibatkan oleh nafsu
manusia. Ada empat inti pencerahan Budhha yang dikenal sebagai Empat Kebenaran
Mulia dalam ajaran Buddha:
·
Penderitaan
adalah pengalaman universal manusia (Dukha)
·
Keinginan
bereksistensi adalah penyebab penderitaan (Samudaya)
·
Penderitaan
berhenti ketika keinginan itu berhenti (Nirodha)
·
Jalan
yang membawa penghentian penderitaan (Marga)
Jalan utama berunsur delapan yang membawa kepada penghentian penderitaan: kepercayaan
yang benar, aspirasi yang benar, ucapan yang benar, perbuatan yang benar, cara
mencari nafkah yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar, meditasi
yang benar
Setelah kematian Buddha
pada tahun 483 s.M, ajaran-ajarannya dikumpulkan. Akhirnya ajaran-ajaran itu
menjadi kitab suci bagi para penganut agama Budha , yang ditulis dalam bahasa
Pali, kitab-kitab suci ini dikenal sebagai Tripitaka (Tiga Keranjang).[3]
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Ajaran Tentang Tuhan
Tuhan dalam Agama Buddha
Tak dapat dikatakan bahwa didalam ajaran agama Buddha
seperti yang terdapat dalam kitab-kitab pitaka terdapat ajaran tentang Tuhan
atau Tokoh yang dipertuhan. Tujuan hidup bukan utnuk kembali kepada asalnya
yaitu Tuhan, melainkan untuk masuk kedalam Nirwana. Penting bagi kita semua
untuk mengetahui bahwa konsep nirwana dalam agama Buddha berbeda dengan konsep
surga dalam Kristen atau Islam. Nirwana bukanlah suatu lokasi, melainkan suatu
kondisi, yaitu keterlepasan dari penderitaan. Atau suatu keadaan dimana orang
tidak lagi terbakar oleh nafsunya. Itulah situasi damai.
Agama Buddha adalah sebuah agama
yang tanpa Tuhan. Ajaran tentang Tuhan tidak ada di seluruh ajaran Gautama
tersebut. Gautama tidak pernah mengajarkan untuk menyembah Tuhan; tidak juga
mengajarkan tentang sifat-sifat Tuhan. Dan Buddha itu sendiri pun juga bukan
Tuhan. Gautama sama sekali tidak pernah mengatakan dirinya adalah Tuhan atau
dewa, dan tidak pernah pula menyuruh dirinya dipatungkan atau disembah. Mungkin
Gautama berpikir,”Tuhan itu ada atau tidak, itu tidaklah penting; yang penting
adalah berbuatlah baik dan capailah Nirwana”. [4]
2. Ajaran Buddha Tentang Manusia
Dalam buku Agama-agama di dunia dijelaskan bahwa Manusia, menurut
ajaran Buddha, adalah kumpulan dari kelompok energi fisik dan mental yang
selalu dalam keadaan bergerak, yang disebut pancakhandha atau lima unsur
yaitu rupakhandha, vedanakhandha, sannakhandha,
shankharakhandha dan vinnanakhandha.
Rupakhandha, atau unsur
akan wujud atau bentuk, adalah semua yang terdapat dalam makhluk yang masih
berbentuk (unsur dasar) yang dapat diserap dan dibayangkan oleh indra (yang
terlihat, terdengar, terasa, tercium ataupun tersentuh). Vedanakhandha, atau
unsur akan perasaan, adalah semua perasaan yang timbul karena adanya hubungan
lima indra manusia dengan dunia luar, baik perasaan senang, susah ataupun
netral. Sannakhandha, adalah unsur akan penyerapan yang menyangkut
intensitas indra dalam menanggapi rangsangan dari luar yang menyangkut enam macam
penyerapan indrawi seperti bentuk suara, bau-bauan, cita rasa, sentuhan
jasmaniah dan pikiran. Shankharakhandha, adalah unsur bentuk-bentuk
pikiran. Menurut ajaran Buddha, bentuk-bentuk pikiran ini terdiri dari 50 macam
kegiatan mental seperti perhatian, keinginan, keyakinan, kemauan keras,
keserakahan, dan sebagainya. Vinnanakhandha, unsur akan kesadaran,
adalah unsur terhadap reaksi atau jawaban yang berdasarkan pada salah satu dari
keenam indra dengan objek dari indra yang bersangkutan.
Manusia dianggap merupakan kumpulan dari lima kandha tanpa adanya
roh atau atma di dalamnya. Agama Buddha menyangkal adanya roh atau atma yang
kekal dalam diri manusia. Ajaran ini disebut dengan ajaran anatman atau anatta.
Manusia selalu berada dalam dukkha karena hidup menurut ajaran Buddha
selalu dalam keadaan dukkha, sebagaiman diajarkan dalam Catur Arya Satyani
tentang hakikat dari dukkha. Untuk menghilangkan dukkha manusia harus
mengetahui dan memahami sumber dukkha yang disebut dukkhasamudya, yang
ada dalam diri manusia itu sendiri, yaitu berupa kehausan (tanha) yang
mengakibatkan kelangsungan dan kelahiran kembali serta ketertarikan pada hawa
nafsu. Tanha inilah yang bisa mengakibatkan manusia ke dalam lobha (ketamakan),
moha (kegelapan) dan dosa (kebencian).
Terhentinya dukkha manusia bisa membawa manusia sampai pada
nirwana. Istilah “nirwana” adalah untuk menggambarkan akhir proses yang terjadi
dalam diri manusia, yang berbeda dengan konsep sorga maupun neraka seperti
dalam agama-agama lainnya. Ketika kebodohan teratasi, maka tercapailah
kebebasan yang sebenar-benarnya, suatu nirwana yang mutlak. Nirwana inilah
tujuan akhir dari semua pemeluk agama Buddha, baik sewaktu masih hidup maupun
sesudah mati.[5]
3.
Ajaran tentang Alam Semesta
Kosmologi Buddhisme berkembang dalam hubungan yang erat dengan
pendapat-pendapat tentang susunan dan perkembangan alam semesta, yang telah
lama berlaku di India sebelum Zaman Buddha. Bagi Buddhisme sistim atau tata
dunia berlangsung dengan sangat panjang. Orang berpendapat, bahwa suatu tata
dunia itu terdiri atas sejumlah matahari, bulan dan lain-lain dan dalam pada
itu orang percaya pula, bahwa pada masa yang sama ada banyak tata dunia.
Begitulah yang dilukiskan orang tentang suatu jagat raya atau alam semesta yang
terbentang tak terbatas jauhnya di dalam ruang dan waktu.
BAB III
KONSEP
KESELAMATAN AGAMA BUDDHA
Dalam
Buddha-Dhamma, tidak diajarkan adanya sosok juru-selamat yang hanya dengan beriman
kepadanya dosa-dosa kita, umat manusia, akan sepenuhnya terhapuskan, dan kita
terjamin dalam kehidupan yang kekal-abadi karenanya.
Sang
Buddha, Guru Agung kita semua, hanyalah penunjuk jalan, tetapi kita
masing-masinglah yang harus menjalani “Jalan-Pembebasan” tersebut, seperti
Sabda Beliau yang tertera dalam Dhamapada 160 :
“ Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung
bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya
?
Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri
dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang amat sukar dicari. “
Siapakah yang menjadikan seseorang menjadi suci ? Siapakah yang
menjadikan seseorang menjadi tidak-suci ? Dengan demikian, siapakah yang
menjadikan hidup kita selamat ? Siapakah yang menjerumuskan kehidupan kita
dalam jurang kekelaman ? Tidak lain tidak bukan adalah : diri
kita sendiri. Keselamatan dan kesucian tidak didapatkan dari
suatu kekuatan eksternal, diluar diri kita sendiri. Dhamapada 165 menyatakan :
“ Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri
sendiri.
Tak seorang pun yang dapat mensucikan orang
lain. “
Sang Bhagava pernah bersabda, “Jadikanlah dirimu pulau perlindungan bagi
dirimu sendiri.” Demikianlah yang diajarkan Sang Buddha. Kita
sendiri yang harus bertanggungjawab terhadap hidup kita, terhadap setiap bentuk
ucapan, pikiran dan perbuatan kita. Kita tidak pernah bisa menyalahkan siapapun
jika hidup kita terjerembab dalam kenistaan, dan kita tidak sepatutnya
bermanja-manja meminta kerelaan siapapun untuk “menggendong” kita menuju
keselamatan dan kebebasan dari semua bentuk penderitaan.
Dalam Buddha-Dhamma, “Keselamatan” dan “Kebebasan” bukanlah sesuatu
yang hanya bisa dinikmati setelah kematian. Pandangan tersebut adalah pandangan
spekulatif. Keselamatan dan kebebasan dapat dicapai dalam kehidupan kita
sebagai manusia, dan kebebasan inipun diketahui oleh orang yang bersangkutan
pula, sebagaimana disabdakan oleh Sang Buddha dalam Parinibbana Sutta,
berkenaan dengan Bhikkhu Salba :
“ Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan
melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama hidupnya itu, maka ia telah
memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui
kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri. “
Dua
Jenis Keselamatan
Dalam Buddha-Dhamma dikenal dua jenis keselamatan, yaitu :
1). Keselamatan
Relatif
Dalam kebanyakan ajaran-ajaran selain Buddha-Dhamma, dinyatakan
bahwa bentuk “Keselamatan” adalah suatu jaminan kelak setelah kita mati kita
akan terlahir disisi “Maha-Dewa”, hidup penuh kesenangan didalam sorga.
Jika jenis keselamatan ini yang dimaksudkan, maka bagi agama Buddha
keselamatan jenis ini adalah keselamatan “relatif”, karena alam surga
sesungguhnya TIDAK-KEKAL, Alam surga juga
bersifat relatif, karena masih terbelenggu oleh dimensi ruang dan waktu.
Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk berdoa dan menyembah
Dewa / Dewi penghuni surga, karena mereka sendiri masih diliputi kekotoran
batin, yaitu nafsu-nafsu indra, dan juga masih dicengkeram oleh kelahiran dan
kematian.
Alam surga bukanlah monopoli agama tertentu. Tetapi, alam surga
memang hanya akan dihuni oleh orang-orang tertentu, menjadi monopoli
orang-orang semacam itu. Orang-orang seperti apakah ? Orang-orang yang baik
hatinya, yang rendah hati, yang penuh cinta kasih, yang mempunyai rasa malu
untuk berbuat jahat dan mempunyai rasa takut akan akibat perbuatan jahat, yang
selama hidup sebelumnya sangat gemar berderma, suka menolong semua makhluk yang
mengalami penderitaan, dan lain-lain sifat dan watak yang positif. Kebajikan
dan kebenaranlah yang akan menjamin seseorang masuk surga , bukan agama yang menjamin seseorang
masuk surga
2). Keselamatan Absolut
Buddha-Dhamma mengajarkan, bahwa surga bukanlah tujuan tertinggi
bagi semua makhluk. Terbebas dari samsara adalah “Keselamatan-Absolut”,
“Kebebasan-Mutlak”. Kebebasan ini diraih dengan merealisasi “Nibbana” (
Sanskerta : Nirvana ), keadaan
tanpa-nafsu-keinginan, pemadaman semua kekotoran). Musnahnya kekotoran batin,
hancurnya nafsu yang abadi serta gemilang, inilah Keselamatan-Mutlak. Saat
itulah semua makhluk akan terbebas dan berhasil keluar dari putaran arus
kelahiran dan kematian.
Didalam
Buddha Dhamma disebutkan bahwa Surga bukanlah tujuan utama dan tertinggi bagi
umat Buddhis maupun bagi semua makhluk. Terbebas dari daur-ulang “Tumimbal
lahir“ inilah yang merupakan “Keselamatan-Absolut” dan “Kebebasan-Mutlak”,
karena saat itulah semua makhluk akan terbebas sepenuhnya dari lingkaran
kelahiran dan kematian (samsara). Keselamatan
dan Kebebasan mutlak ini hanya dapat diraih dengan merealisasi “Nibbana” yaitu
; Keadaan tanpa nafsu keinginan, yang merupakan pemadaman total dari
semua kekotoran batin .
Demikianlah,
sehingga Keselamatan dan Kebebasan dalam Buddha Dhamma bukanlah hal sederhana
sebagai pencapaian kehidupan di alam surga semata. Keselamatan dalam Buddha
Dhamma merupakan terbebasnya suatu makhluk dari putaran arus kelahiran dan
kematian ( samsara ), yang penuh dukkha, kepiluan, dan ratap-tangis.
Keselamatan sedemikian ini hanya akan dicapai saat suatu makhluk, dalam hal ini
seseorang manusia, merealisasi Nibbana, mencapai Pencerahan, mencapai
ke-Buddha-an.
BAB
IV
REFLEKSI
TEOLOGIS
Cara pandang Buddhaisme menekankan
bahwa seseorang harus membiarkan hidup mengalir secara alamiah seperti aliran
sebuah arus sampaiakhirnyamencapailaut.Ada banyak
nilai-nilai moral yang baik yang diajarkan oleh Gautama, Gautama sendiri patut dikenang
sebagai tokoh yang berhati mulia. Bagaimanakah kita orang Kristen harus
bersikap pada orang Buddha? Sepanjang sejarah, orang Buddha tergolong jarang
terlibat dalam pertikaian antar agama.
Orang Kristen
harus belajar dari orang-orang Buddha setidaknya dalam 2 hal: Pertama, mereka
bisa menjalin kerukunan antar aliran mereka. Meskipun mereka terpecah menjadi
banyak aliran, mereka bisa saling menghargai satu sama lain. Kedua, mereka
sangat menghargai agama-agama lain. Mereka bisa menghargai perbedaan pendapat.
Orang Kristen perlu belajar dari mereka dalam hal-hal positif yang mereka
miliki. Dan di atas semuanya itu, kerukunan antar agama harus tetap selalu
dijunjung.
Budhisme menyerap
pluralisme internal yang luar biasa. Ia juga dapat menjalankan tugas dengan
nyaman dengan agama-agama lain. Penekanan Buddhis pada tanggung jawab pribadi
menegaskan pada kemerdekaan untuk memilih.
Soli Deo Gloria!
Terpujilah Nama Tuhan
Terpujilah Nama Tuhan
[1] Dr. A.
G. Honig, Agama-Agama di Dunia, BPK Gunung Mulia 1994, hal 165-166
[2] Dr.
Harun. H, Agama Hindu & Budda, BPK Gunung Mulia 2000, hal 64
[3] David W.
Shenk, Ilah-Ilah Global, BPK Gunung Mulia 2003, hal 129-130.
[4] Dr.
Harun. H, Agama Hindu & Budda, BPK Gunung Mulia 2000, hal 101-102.
[5] Blogger
kejora